Bagian Perkenalan Api

Selamat malam semua,

Bismillah, ini adalah untuk kesekian kalinya saya mencoba menulis. Mungkin tulisan ini tidaklah sebaik yang kalian harapkan. Tapi harapan saya hanya satu, semoga kalian bisa membacanya sambil menarik secangkir kopi di samping kalian.


"Menulis itu peduli. Menulis itu mencinta."
- Helvy Tiana Rosa 


Kau anggap aku apa?
Dia anggap aku apa?
Kalian anggap aku apa?
Tapi Aku tak peduli dengan itu semua
Aku lebih resah ketika aku bertanya pada bayangan,
"Siapa sebenarnya Aku"
Akhirnya kuputuskan untuk menulis lagi, mungkin saja tulisanku bisa menyadarkan diriku "Siapa sebenarnya Aku?".
Tapi kurasa ini bukan tentang tulisan puisi. Melainkan sebuah kata hati yang dilambangkan oleh bahasa puisi.


(BAGIAN PERKENALAN YANG SESUNGGUHNYA)
Tulisan ini hanya akan memperkenalkan Aku yang tidak pernah menunjukkan ke-Aku-annya.

Aku adalah seorang manusia yang hidup untuk menggembala, mencari sebuah alasan mengapa Aku tidak seperti Aku yang ada dipikiranku. Banyak sekali hari-hari kulalui dengan menjadi Aku yang seperti dalam bayangku. Hingga Aku tersadar, bayangku adalah egoku. Bayangku adalah bayang-bayang orang lain yang terlarut dalam Aku.

"AKU HARUS KELUAR"

Itulah teriakku yang tak pernah kalian dengar, mungkin.

Sejatinya, Aku adalah seseorang yang sedang mencari jati diri.

Mencari jati diri ternyata tidaklah semudah kita menjadi seperti orang lain. Kadang iri dan dengki merasuk ke dalam hati kita, bergemuruh dalam hati mengatakan bahwa, "Kenapa Aku tidak bisa seperti dia? Aku akan menjadi lebih dari dia". Tapi nada pembawaannya bukan malah membuatku semangat untuk mencari jati diri, tetapi malah membawaku ke sebuah zona dimana Aku merasa dia tidak lebih hebat dariku dan membuatku memendam iri dan dengki yang lama kelamaan meracuni diriku.

Mencari jati diri juga tidaklah semudah menahan ego. Ego yang menggebu-gebu seolah-olah ingin melapas belenggu hati ini. Sakit terkadang ketika ego yang telah lama kita berusaha untuk pendam, malah memakan balik diri kita. Aku yang mencari jati diri, selalu mengusahakan diri untuk mendahulukan hati nuraniku dibanding dengan egoku. Tapi apa? Sampai sekarang pikiranku masih terus tercampuri oleh egoku yang semestinya sudah bisa kutahan.

Tapi, terkadang, Aku sejenak berpikir. Tidakkah kita juga memerlukan itu semua untuk melecut diri kita? Maka dari itu, Aku memilih tidak membuangnya, bukan karena Aku sombong bisa menahannya, tetapi itulah manusia, mengada untuk dianggap ada.

Ya, itulah api dalam diriku yang masih terus menyala hingga detik kutuliskan cerita ini.

Api? Pasti padam oleh air bukan? Tapi air yang cukuplah yang bisa memadamkan api.


Bersambung

Bagian Perkenalan Air

Comments

  1. THIS IS AL, hi lip ive always liked ur writings so KEEP ON GOING OK!!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bagian Perkenalan Air