Bagian Perkenalan Air

Selamat malam semua,

Bismillah, ini adalah sebuah cerita, dimana sebuah air dan api yang ingin memadu dirinya menjadi sebuah kesatuan yang tak dapat dienyahkan oleh dunia. Entah apakah ini sebuah tunas bambu di musim dingin ataukah gugur daun pohon jati di musim kemarau.



“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 

- Pramoedya Ananta Toer
















Enyahlah,


Entah,


Sudahlah,


Positif sajalah.




















Mungkin secarik sajak di atas ialah airku dalam raga ini.


13 Juni 2018 12:34

Aku berpikir apa yang sudah kulakukan selama 17 tahun 364 hari 17 jam 36 menit 25 detik yang lalu?

Apa yang sudah kuberikan untuk orang lain? 

Apakah Aku ini masih menjadi seonggok batu di hutan yang luas? 

Ataukah Aku belum sadar dari tidur panjangku?


Sebuah pertanyaan yang muncul dalam kepalaku selama 17 tahun 364 hari 17 jam 36 menit 25 detik yang lalu. Tak ada yang dapat menggerakkan ragaku untuk berbuat, semua hanya sebatas omongan belaka, hanya sebuah ide-ide kecil, yang mana orang lain sudah bergerak 2 langkah di depan dan Aku masih tertinggal 2 langkah di belakang.


Tetapi, Aku sudah mengutarakan bahwa Aku bukan orang yang mudah menyerah bukan? Aku ini bukan seonggok kayu, yang ketika terbakar sudah tak ada usaha, lalu hanya jadi abu yang tertiup menjadi debu.


Mungkin daripadaku jelaskan apa itu arti air bagi hidupku, lebih baik kalian resapi saja secarik puisi yang kutulis di hari yang cukup berkenan di hatiku ini.




Air Kehidupan

Hidup ini seperti disihir oleh mantra,
Terkadang efeknya membuat kita buta,
Buta akan arti dan makna,
Hilang tanpa jera.
Ini hidup bukan sekedar hidup,
Disana hidup hanya dianggap sekedar ada,
Tapi di dalam sini hidup adalah tidak redup,
Selalu menyala dalam kondisi tiada.
Mulanya Aku sadar hidup itu adalah untukku,
Tapi ternyata ada andil hidup untukmu,
Dan Aku masih bersyukur,
Atas apa yang telah Kau berikan saat kuterpungkur.
TanpaMu hidup bukanlah hidup,
TanpaMu Aku hidup untuk redup.




Aku punya prinsip, bukan hanya untuk diintip



API DAN AIR TELAH TERTULIS,
KINI WAKTUNYA MASUK KE SEBUAH PERJALANAN UNTUK MENULIS.

Comments